Breaking News

Breaking News

Selasa, 01 November 2016

Keutamaan Shalat Malam

Cerpen 2 :

Keutamaan Shalat Malam

Seorang laki-laki membeli seorang budak. Dia berkata kepada tuannya: “tuanku, aku mempunyai tiga permohonan. Pertama, jangan tuan larang aku untuk shalat ketika masuk waktunya. Kedua, aku akan melayanimu sepenuhnya pada waktu siang, namun jangan tuan berikan aku pekerjaan pada waktu malam. Ketiga, sediakanlah untukku sebuah ruangan yang tidak boleh seorangpun memasukinya selain diriku sendiri.” Maka tuannya menjawab: “aku penuhi permintaanmu, berkelilinglah melihat-lihat seputar rumah ini dimana kamar yang kamu suka.”

Lalu sang budak mengelilingi rumah besar itu dan akhirnya dia dapatkan satu ruangan yang kosong dan terpencil. Masih penasaran dengan permintaan budaknya, sang tuan bertanya: ‘mengapa kamu menginginkan kamar seperti ini ?” Maka dia menjawab; “Tuanku, tidakkah tuan tahu ruang yang kosong dan sepi itu akan jadi tempat yang ramai dan taman yang indah bersama Allah ?” dan budak itupun memasuki kamar tersebut pada waktu malam hari tiba.

Pada suatu malam sang tuan membuat pesta dan jamuan makan bersama teman-temannya. Ketika tengah malam tiba dan acarapun telah selesai, semua tamu sudah pulang, dia mengitari rumahnya. Tiba-tiba matanya tertuju ke kamar sang budak, alangkah terkejutnya sang tuan karena dilihatnya atap kamar terbuka dan di atasnya  bergelantungan sebuah lentera yang bersinar terang benderang, sementara si budak sedang sujud kepada Tuhannya, sembari bermunajah : “Tuhanku aku mempunyai kewajiban melayani tuanku pada waktu siang, seandainya tidak, maka aku hanya melayanimu baik siang maupun malam. Izinkanlah wahai Tuhanku.” Tidak henti-hentinya si tuan memperhatikan keluarbiasaan itu hingga terbit fajar. Saat itu dia melihat lentera dia terangkat ke langit dan menghilang dalam kejauhan sang angkasa. Kemudian perlahan-lahan atap kamar budak tersebut tertutup kembali seperti sediakala.

Malam selanjutnya, setelah menceritakan pada istrinya, mereka berdua menyaksikan kembali atap kamar yang terbelah, lentara bergantung yang bercahaya dan sang budak yang larut dalam sujud dan munajahnya sampai terbit fajar. Kemudian keduanya memanggil sang budak dan berkata : “dengan mengharap ridha Allah, saat ini kamu merdeka ! sehingga kamu sepenuhnya dapat melayani Zat yang kamu mohon izin kepada-Nya karena tidak dapat melayani-Nya diwaktu siang.” Keduanya, kemudian, menceritakan apa yang mereka lihat tentang kemulian yang Allah berikan padanya.

Mendengar pengakuan tuannya itu, dia mengangkat kedua tangannya ke langit sambil berseru : “Tuhanku, aku telah meminta kepadamu supaya jangan Engkau buka rahasiaku dan Engkau tampakkan keadaan yang sebenarnya kepada orang lain, jika Engkau membukanya maka ambillah ruhku untuk kembali keapada-Mu.” Tiba-tiba dia tersungkur dan berpulang ke rahmatullah.

(Syaikh Syihabuddin al-Qalyubiy, An- Nawadir (Memetik Hikmah di Taman Kisah, terjemahan), hal. 1-2)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Designed Template By Blogger Templates - Powered by BeGeEm